Jakarta, Nusanewstv.com — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa pagi (19/5/2026). Mata uang Garuda bahkan mencatat level terlemah sepanjang sejarah setelah dolar Amerika Serikat (AS) menembus angka Rp17.706 di pasar spot.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 38 poin atau sekitar 0,22 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir terus dibayangi tekanan global maupun domestik.
Hingga pukul 09.13 WIB, mayoritas mata uang Asia sebenarnya bergerak relatif stabil. Namun, beberapa mata uang di kawasan juga tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS, di antaranya:
- Baht Thailand melemah 0,03 persen
- Rupee India melemah 0,39 persen
- Dolar Taiwan melemah 0,07 persen
- Won Korea Selatan melemah 8,73 persen
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi global serta keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Analis pasar keuangan Lukman Leong menilai rupiah sebenarnya memiliki peluang untuk menguat setelah ketegangan geopolitik global sedikit mereda. Sentimen positif muncul usai Presiden AS, Donald Trump, menunda rencana serangan terhadap Iran, sehingga menurunkan kekhawatiran investor terhadap risiko pasar global.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran pasar setelah Trump menunda serangan ke Iran,” ujar Lukman, Selasa (19/5/2026).
Meski demikian, penguatan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung signifikan. Menurut Lukman, sentimen domestik masih cenderung lemah, terutama karena pelaku pasar tengah menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan ini.
BACA JUGA :
- Warga Kecamatan Tiga Panah Bakar Mesin Judi Tembak Ikan
- Kecamatan Sibolangit Adakan Rapat Koordinasi
Investor disebut mulai mengantisipasi kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas rupiah yang terus mengalami tekanan hingga menyentuh rekor terendah baru.
“Penguatan mungkin terbatas mengingat sentimen domestik yang masih lemah serta antisipasi investor pada RDG BI yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga,” jelasnya.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar S.
Di sisi lain, ia menilai langkah kenaikan suku bunga oleh BI seharusnya dilakukan lebih cepat agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.
“Naikkan suku bunga menurut saya ag telat daripada tidak,” kata Lukman.
Pelemahan rupiah ke level psikologis baru ini pun menjadi sorotan pasar, mengingat dampaknya yang bisa merembet ke berbagai sektor, mulai dari harga impor, inflasi, hingga daya beli masyarakat.


