Asahan,NusaNewsTV.com Diduga memiliki 3000 butir pil ekstasi, spanduk bertuliskan meminta evaluasi tuntutan dan putusan 11 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Kisaran terhadap vonis berinisial “RRS” terpampang diseputaran Kota Kisaran.
Spanduk berukuran 1 x 5 meter ini dipasang disejumlah titik jalan protokol Kota Kisaran, Kecamatan Kota Kisaran Barat, Asahan, Sumatera Utara (Sumut). Lantas, spanduk yang dipasang ini menjadi sorotan publik setelah masyarakat yang melintas melihat dan membacanya.
TEMUKAN BERITA LAINNYA Warga Kecamatan Tiga Panah Bakar Mesin Judi Tembak Ikan
Tuntutan dan putusan atas nama RRS dengan nomor perkara : 399/PID.SUS/2025/PNS Kisaran yang divonis 11 bulan penjara dengan barang bukti 3000 butir diduga ekstasi. Kami menilai terjadi “pengadilan hitam” di Wilayah Kabupaten Asahan, tulis di spanduk itu.
Pantauan wartawan dilokasi, spanduk ini dipasang di Jalan Imam Bonjol simpang Tugu Kisaran, Jalan Cokroaminoto Kisaran, didepan Kantor Kejari Asahan, didepan Kantor Pengadilan PN Kisaran dan didepan Kantor Mapolres Asahan.
Menanggapi personil hukum itu, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Rakyat Indonesia Nusantara, Julianto Putra LH, SH, MKn, menyampaikan apresiasinya sekaligus pandangan hukum terhadap perkembangan perkara narkotika yang sebelumnya menjadi perhatian publik pasca pengungkapan besar oleh Satres Narkoba Polres Asahan.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan pemberitaan media, pada Februari 2025 Polres Asahan berhasil mengungkap jaringan peredaran narkotika dalam jumlah besar, dengan barang bukti mencapai 6 kilogram sabu, 63 kilogram ganja, serta pil ekstasi, ujar Julianto Putra dalam siaran pers rilisnya, Selasa (26/5/2026) di Kisaran.
Dalam pengungkapan tersebut, aparat menyampaikan adanya beberapa pelaku yang diamankan dan dikaitkan dalam satu rangkaian pengungkapan jaringan narkotika. Pengungkapan tersebut menjadi perhatian masyarakat karena dinilai sebagai salah satu operasi besar pemberantasan narkotika di wilayah hukum Polres Asahan, terangnya.
“Kami mengapresiasi Satres Narkoba Polres Asahan atas keberhasilan mengungkap jaringan narkotika dalam jumlah besar. Narkotika merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang merusak masa depan generasi bangsa, sehingga upaya pemberantasannya harus mendapat dukungan bersama,” ujar Julianto Putra.
Namun demikian, dia menilai bahwa setelah perkara memasuki tahap persidangan dan lahirnya putusan pengadilan, muncul persoalan hukum yang patut menjadi perhatian publik.
Berdasarkan data SIPP Pengadilan Negeri Kisaran, perkara yang sebelumnya dipersepsikan publik sebagai bagian dari satu rangkaian pengungkapan ternyata menghasilkan amar putusan yang sangat berbeda yaitu Robby Rizky Bangun dijatuhi pidana 11 bulan penjara.
Sementara M. Subki dijatuhi pidana 8 tahun penjara dan denda Rp.1 miliar subsider 3 bulan penjara. Sedangkan terhadap Rusdi Ardiansyah alias Tuah dijatuhi pidana 8 tahun penjara dan denda Rp.1 miliar subsider 3 bulan penjara.
Menurutnya, berdasarkan konstruksi awal yang berkembang dalam pemberitaan penangkapan, ketiga nama tersebut disebut-sebut berada dalam satu rangkaian pengungkapan perkara.
Secara hukum, kata dia, hal tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya kekeliruan karena proses hukum pidana memiliki tahapan berbeda antara penyidikan dan pembuktian di pengadilan. Namun yang menjadi perhatian adalah mengapa hasil akhirnya sangat berbeda, tanya pria berkacamata ini.
Julianto Putra menyebutkan, pandangan hukum bahwa penangkapan bukan putusan bersalah. Dia menegaskan bahwa tahap penangkapan dan tahap putusan memiliki standar hukum berbeda. Dalam tahap penyidikan, aparat dapat melakukan tindakan berdasarkan alat bukti permulaan yang cukup, terang peria berbadan gempal ini.
Sedangkan pada tahap pengadilan berlaku Pasal 183 KUHAP yang menyatakan Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan ia memperoleh keyakinan bahwa tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwa lah sebagai pelakunya. Artinya, seseorang yang pada tahap awal masuk dalam pengembangan jaringan belum tentu memiliki kualitas pembuktian yang sama di persidangan, tuturnya.
Namun apabila pada awalnya ketiga nama disebut dalam satu pengungkapan jaringan, maka publik wajar mempertanyakan bagaimana konstruksi peran masing-masing, siapa pelaku utama, siapa menguasai barang bukti, siapa hanya mengetahui dan siapa terlibat aktif serta mengapa putusannya berbeda terlalu ringan. Ada apa dengan kasus ini, sindirnya.
Asas persamaan kedudukan dihadapan hukum berdasarkan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang menerangkan bahwa “Sebagai warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan serta wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya,” terangnya.
Prinsip ini mengandung makna bahwa setiap orang harus diperlakukan secara setara. Setara bukan berarti semua harus dipidana sama, tetapi apabila ada perbedaan sangat jauh, maka perbedaan itu harus memiliki dasar objektif dan dapat dijelaskan secara hukum, ujarnya.
Hakim memang independen, tetapi putusan garus dapat dipahami dan mudah dimengerti.
Berdasarkan Pasal 24 ayat (1) UUD 1945 bahwa “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka.” Kemudian Pasal 5 ayat (1) UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman bahwa “Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat,” jelasnya.
LBH RI-Nusantara menghormati independensi hakim. Namun, kata dia, independensi tersebut harus disertai argumentasi hukum yang terang sehingga masyarakat memahami mengapa perbedaan itu terjadi. Disparitas pidana harus dapat dijelaskan. Dalam ilmu hukum pidana dikenal istilah disparitas pidana yakni perbedaan hukuman terhadap perkara yang memiliki karakteristik serupa.
Menurut Pakar Hukum Pidana, Muladi dan Barda Nawawi Arief menjelaskan bahwa disparitas pidana yang terlalu jauh tanpa argumentasi jelas dapat menimbulkan persepsi ketidakadilan dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum, sebutnya.
“Yang dipersoalkan bukan berat atau ringan pidana.Yang menjadi pertanyaannya adalah apa dasar yuridis yang menyebabkan satu terdakwa dipidana sekitar 11 bulan, sedangkan dua terdakwa lain memperoleh pidana 8 tahun dalam perkara yang awalnya dipersepsikan sebagai satu rangkaian,” tanyanya.
Kami mendukung penuh pemberantasan narkotika dan mengapresiasi Polres Asahan atas keberhasilan pengungkapan kasus besar ini. Namun sebagai negara hukum, proses persidangan juga harus mampu menjelaskan logika hukum secara terang sehingga rasa keadilan masyarakat tetap terjaga, tutupnya.
Sementara konferensi pers sebelumnya, Jum’at (21/2)/2025) kemarin sekira pukul 10:10 WIB dilapangan tengah Polres Asahan, Kepolisian Resor (Polres) Asahan kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas peredaran narkotika dengan mengungkap tiga kasus besar dalam satu operasi.
Kapolres Asahan AKBP Afdhal Junaidi, SIK, MM, MH, mengumumkan keberhasilan timnya dalam menyita total 6 kg sabu, 6,3 kg ganja dan sejumlah ekstasi dari jaringan narkoba lintas wilayah. Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat Polres Asahan, termasuk Kabag Ops Kompol Sastrawan Tarigan, Kasat Narkoba AKP Mulyoto, serta perwakilan media yang turut meliput hasil pengungkapan tersebut.
Tim Opsnal Satres Narkoba berhasil menangkap AMN (45), seorang nelayan asal Kota Tanjung Balai, dalam operasi undercover buy. Saat dilakukan penggerebekan di rumah tersangka C alias R di Kisaran, polisi menemukan 6 kg sabu dalam kemasan plastik orange merk 99 Durian, satu pucuk senjata api genggam baretta serta 262 butir peluru kaliber 9 mm dan 100 butir peluru kaliber 7 mm.
Tersangka Rusdi Ardiansyah Panjaitan alias Tuah (37) diamankan saat mengendarai becak motor di daerah Teluk Nibung, Kota Tanjung Balai. Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan 10 bungkus besar ganja seberat 6,3 kg dalam sebuah kotak kardus coklat dan tersangka mengaku hanya bertugas mengantar paket yang hendak dikirim kepada seseorang bernama Roy.
Dua tersangka, M. Subki (24) dan Robby Rizki Bangun (35), ditangkap saat hendak bertransaksi di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Tanjung Balai. Polisi berhasil menyita dua bungkus plastik besar berisi ekstasi, dua unit sepeda motor serta sejumlah alat komunikasi yang digunakan dalam transaksi ilegal. Dari pengakuan para tersangka, barang haram ini didapatkan dari seorang warga negara Malaysia.
“Kami tidak akan pernah memberi ruang bagi para pelaku kejahatan narkotika. Operasi seperti ini akan terus kami lakukan demi melindungi masyarakat dari bahaya narkoba. Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk turut serta memberikan informasi terkait peredaran narkotika,” tegasnya.(ZN)











